Berhasil Jadi CPNS, Pria dengan Skizofrenia Paranoid Ini Buktikan Disabilitas Bukan Batas


Skizofrenia paranoid yang disandang Eddiansyah Ragil Saputra (29) sempat membuatnya kesulitan. Namun, dengan perawatan yang tepat, kini ia berhasil menjadi CPNS Pemprov DKI Jakarta.

Skizofrenia paranoid adalah salah satu bentuk dari disabilitas mental yang acap kali disebut gangguan kejiwaan. Pada 2012, disabilitas ini baru terdiagnosis oleh keluarga Eddi dan ia sempat dimasukan ke rumah sakit jiwa.
Setelah melakukan perawatan dengan rutin meminum obat setiap malam, kini ia bisa melanjutkan hidupnya dengan baik. Pendaftaran CPNS 2019 pun diikuti dan berhasil lolos.

“Saya mendaftar melalui jalur disabilitas, intinya harus terbuka dengan pimpinan tentang kondisi yang kita miliki, maka pimpinan akan memakluminya,” ujar Eddi .

Menurutnya, pemerintah sekarang sudah sedikit demi sedikit membuka diri untuk menerima pekerja dari kalangan disabilitas mental. Tes CPNS tersebut diikuti dengan alasan ingin memenuhi panggilan hati dan membanggakan orangtuanya.

Disabilitas mental membuat pria asal Bekasi ini sempat ditolak oleh perusahaan.

“Pernah saya ditolak pada saat wawancara di perusahaan startup dan saya mengaku mempunyai gangguan jiwa. Waktu itu masih belum ada istilah disabilitas mental.”
Kiat Jaga Kestabilan Jiwa
Selama bekerja menjadi CPNS, Eddie tidak pernah mengalami kendala akibat disabilitas mental yang disandangnya. Menurutnya, selama meminum obat secara teratur maka semuanya dapat terkendali.

“Allhamdulilah selama kita berobat secara teratur tidak mempengaruhi kondisi pekerjaan sehari-hari.”

Ia pun membagikan beberapa kiat untuk menjaga jiwa tetap sehat terkendali. Hal paling utama adalah berobat secara teratur.

“Lalu kalau bisa cari dukungan dari orang–orang sekitar baik teman sepekerjaan maupun keluarga. Mau menerima kekurangan diri sendiri lalu libatkan diri dalam komunitas atau organisasi supaya kita ada aktivitas.”

Disabilitas mental sama seperti disabilitas fisik yaitu sama-sama manusia yang berkebutuhan khusus, kata Eddie. Satu hal yang membedakan adalah, disabilitas mental tidak terlihat sedang disabilitas fisik terlihat, tutupnya.